Latest Entries »

Bukan Puisi

kata cintamu serupa peluru
menghujam, mengoyak, merobek-robek tiap sendi darahku
dan senyummu bagai asapa-asp mortir
berkelebatan, menghapus ingatan
dan yang terlihat hanya kau dan kau, melayang-layang dalam pikiran

“Bagus ga?”

Aku mengambil kertas yang dia sodorkan padaku, membacanya. Aku tersenyum.

“Itu yang mau kau kasih?” Dia mengangguk, meski ragu.

“Yakin?”

“Yak.. eh nggak” sahutnya terbata.

“Puisi tuh yang romantis. Mana ada puisi cinta kaya itu? Itu sih ngajak perang” kataku lagi sambil terus menyemir sepatu.

“Puisinya Sapardi* tuh romantis. Kasih saja itu, kalau kau tak bisa buat sendiri” kataku lagi, sambil kini menggosok brasco pada kepala timang ikat pinggang.

“Bah!! Biar begini, aku tidak mau menyontek-nyontek karya orang lain. Itu namanya palsu. Cintaku kan asli” tukasnya sambil mulai mencoret-coret.

“Kau tidak menyemir sepatumu?” tanyaku. Aku melihat sepatunya masih saja tergeletak di kolong tempat tidur. Tak terjamah.

“Ah, itu bisa nanti. Lagian, ini kan hari libur. Ini dulu yang penting. Bisa kacau aku, kalau pas hari ulang tahunnya, aku tak memberinya kado” katanya lagi.

“Perempuan sekarang tidak doyan puisi. Mereka lebih suka benda. Kalau kau tak mau susah, kasih saja uangnya. Mereka akan membebek kemana pun kau pergi” Aku memakai sepatuku juga sabuk yang sudah aku bersihkan tadi lalu merebahkan tubuh ke tempat tidur.

“Dasar kau playboy kenthir. Nasib kau saja yang tak beruntung, selalu pacaran dengan perempuan- perempuan matre” serunya sambil merobek kertas yang berisi puisi tadi, meremas-remasnya hingga tergulung dan dibuang di lantai. Beberapa gulung kertas yang serupa bola, berserak di sana.

“Yang penting sebanding dengan apa yang aku dapat.. hehehe” sahutku kalem.

“Kau saja yang tak bisa menghormati perempuan. Makanya, perempuan pun tak menghormatimu” ucapnya.

untukmu aku berjuang
meski harus menembus barikade lawan
untukmu dik yang kusayang
sabarlah menunggu hingga abang pulang dari medan juu…..

“PRAJURIIITT!!!!!!”

Suara menggelegar terdengar dari depan pintu di ujung barak, memenggal barisan puisi yang dia ucapkan. Aku terbangun, bergegas dan bersiap di sisi tempat tidur. Komandan kami mulai berjalan, memeriksa satu demi satu.

Temanku tergagap. Sepatunya belum sempat di semir, timangnya belum digosok, belum lagi sampah kertas yang berserak. Lesu, dia berdiri di sisi tempat tidurnya.

Dengan suara terkekeh pelan aku berucap padanya,

“Prajurit tak membuat puisi. Siap-siap saja kau, push up 100 kali”.

Kanker Payudara Gozonk

Saya tak terlalu suka binatang peliharaan. Menurut saya, binatang peliharaan itu hanya menambah kerepotan. Namun tidak adik saya. Dia suka sekali dengan kucing. Beberapa kali bila ada kucing liar yang tiba-tiba nyasar masuk ke rumah, malah dia kasih makan, sedang saya memilih menyiramnya dengan air dari kamar mandi untuk mengusirnya.

Serupa adik saya, anak tetangga yang waktu itu masih berumur kira-kira 2,5 tahunan, juga senang sekali dengan kucing. Saking senang dan beraninya dia dengan kucing, kucing-kucing peliharaannya dia jadikan bantal-bantalan bila dia tidur-tiduran, dijadikan kuda-kudaan sampai dikocok-kocok hingga dicekik. Entah gemes, entah kejam.

Suatu hari, kucingnya lari ke rumah, setelah hampir gepeng dijadikan kuda-kudaan. Dan tak mau kembali lagi ke rumah si empunya, mungkin takut.

Jadilah kucing itu peliharaan adik saya. Gozonk, adik saya menamainya Gozonk karena warna bulunya yang hitam coklat tidak jelas.

Saya tidak tahu, Gozonk jenis kucing apa, yang saya tahu, Gozonk hanya jenis kucing kampung biasa. Gozonk berjenis kelamin betina. Beberapa kali dia melahirkan, tapi kata Bapak saya, Gozonk bukan induk yang baik, anak-anak yang dilahirkannya mati semua karena tidak dia urus dan susui.

Hingga suatu hari, adik saya menemukan benjolan di salah satu puting payudara Gozonk. Putingnya bengkak dan mengeras. Dan sejak itu Gozonk semakin kehilangan selera makan. Dia lebih sering tiduran di  alas busa yang memang disediakan untuknya sebagai alas tidur. Sebelumnya dia lebih sering tidur di kasur bareng adik saya.

Karena kami tidak tahu masalah perkucingan, saya terutama, tidak terlalu mengkhawatirkannya. Dan tarif dokter hewan dengan dokter manusia, sungguh jauh berbeda harganya, jadi kami tak membawanya ke dokter hewan.  Kalau manusia sakit dan tak punya uang, bisa saja beli obat di warung atau pergi ke Puskesmas, kalau hewan? sepertinya tidak ada Dukun Ponari khusus hewan.

Dan akhirnya benjolan itu pecah. Darah dan nanah keluar dan adik saya hanya bisa mengelapnya dengan air hangat dibantu dengan Gozonk sendiri yang menjilat-jilat  lukanya.

Semakin hari Gozonk semakin lemas. Darahnya sering keluar dan menetes. Selera makan Gozonk juga semakin menghilang walau adik saya sudah membelikannya makanan kucing olahan pabrik, bukan lagi sekedar nasi dan ikan pindang cuwe’ atau ikan segar yang biasanya dia berikan.

Seiring keadaan Gozonk yang terus memburuk dan adik saya yang sering menangis mengkhawatirkan kucingnya, saya akhirnya menyuruh adik saya pergi ke Dokter Hewan untuk memeriksa kondisi kesehatan Gozonk.

Setelah Gozonk diperiksa, Dokter memvonis kalau Gozonk kena kanker payudara. Kanker payudara? Tidak salah? Memang bisa, kucing kena kanker payudara? Terus harus dioperasi? Apa harus dikemoterapi juga?
Beragam pertanyaan itu yang menyeruak benak saya dan mencecar si Dokter Hewan.

Kata Dokter Hewan, binatang bisa saja terkena kanker payudara, bila tak menyusui anaknya. Air susu yang tidak keluar, bisa menyumbat dan membuat benjolan mirip tumor dan bila tumornya ganas akan berlanjut menjadi kanker. Itu sebabnya semua ibu, baik manusia maupun binatang, bila melahirkan, sebaiknya menyusui sendiri anak-anaknya. Dan Allah sudah memberikan alarm bagi mereka para ibu dengan rasa sakit di payudara bila air susunya tidak disedot atau dikeluarkan.

Dan kanker yang menyerang Gozonk sudah sampai stadium lanjut, susah diobati walau dioperasi. Adik saya shock mendengar keadaan Gozonk, saya shock memikirkan biayanya.

Akhirnya Dokter menyuruh kami membawa saja Gozonk pulang, setelah sebelumnya diinfus dan dikasih obat. Dokter memprediksi, usia Gozonk tidak akan bertahan lama, jadi percuma dirawat inap. Dokter juga menyarankan untuk menyuapi Gozonk dengan telur ayam kampung mentah dan susu, karena Gozonk sudah tidak mau lagi menyentuh makanan. Gozonk diberi beberapa macam obat untuk 3 hari. Setelah 3 hari kami harus kembali lagi.

Belum genap 3 hari, Gozonk kejang. Kepalanya hanya menggeleng-geleng serupa orang triping. Gozonk selalu berusaha berdiri, seperti ingin lari, mungkin menahan sakit, tetap saja, dia jatuh lagi karena lemas. Bahkan air seni-nya (maaf) semakin banyak, kuning tua dan berbau. Bola matanya juga sudah terbalik-balik. Darah dari putingnya terus mengalir. Tergopoh-gopoh kami membawanya kembali ke Dokter Hewan.

Sampai di Dokter Hewan, sekali lagi Gozonk disuntik. Setelah disuntik, kejangnya berkurang. Dan Gozonk menjadi lebih tenang. Bola matanya kembali normal, walau sepertinya semakin memutih warnanya.

Dokter kali ini cuma bilang ke adik saya, sebaiknya adik saya mengikhlaskannya. Dokter tetap menyuruh kami membawa pulang Gozonk, walau adik saya bersikeras agar Gozonk dirawat inap saja di klinik.

Semalaman adik saya tak bisa tidur. Dia hanya mengelus-elus Gozonk yang kadang menjilati tangan adik saya pelan-pelan. Nafas Gozonk semakin pelan dan satu-satu.

Kami, saya, Bapak dan dua adik saya yang lain, tidak lagi sibuk mengkhawatirkan Gozonk, tapi sibuk membujuk adik saya untuk mengikhlaskan kucingnya.

Selepas sholat Ashar, adik saya menyerah. Di kuping Gozonk dia membisikan kata,

“Kalau Gozonk sudah tidak kuat, Yuni ikhlas. Gozonk pulang aja, tapi jangan lupain Yuni ya? Maafin Yuni”.

Situasinya jadi mirip saat kami berusaha ikhlas melepas kepulangan Ibu.

Akhirnya setelah Maghrib, Gozonk berpulang. Adik saya membasuh sekujur tubuh Gozonk yang telah kaku dengan air hangat. Membersihkan luka di puting Gozonk yang sudah terbuka lebar, lalu mengkhafaninya dengan sisa kain kafan Ibu, yang masih kami simpan. Bapak menguburkan Gozonk di samping rumah, bunga-bunga pacar banyu yang kami punya, dipetik adik saya dan ditabur di atas makamnya.

Fiuh, untung adik saya, tidak meminta saya mengadakan acara yasinan juga untuk kepulangan Gozonk.

Hewan saja bisa kena kanker payudara karena tidak mau menyusui, walau mungkin kondisi dan sistem tubuh antara manusia dengan hewan tentu saja berbeda, sebaiknya, Ibu-ibu menyusui dan memberi ASI untuk anak-anaknya.

Penutup Mata Yang Terbuka

“Namanya Themis. Themis sang Dewi Keadilan” jawabku padanya.

“Mengapa matanya ditutup, Ayah?” Tanyanya lagi, sambil tetap memandang foto sebuah patung.

“Itu simbol agar dia memakai hati nuraninya selain pikirannya dalam memandang suatu perkara, dan tidak silau akan segala sesuatu yang terlihat oleh matanya, sayang” jawabku. Dia mendengarkan dengan takjim.

“Mengapa silau?”

“Iya nak, silau karena dihadapannya disodori uang, kekayaan, harta benda sebagai suap, agar dia tak bertindak adil” ucapku lagi.

“Lalu kenapa harus membawa timbangan?”

“Timbangan juga simbol keadilan. Tidak berat sebelah. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Tidak memandang kaya atau miskin. Semua orang mendapat keadilan dan hukuman sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya” sahutku lagi sambil mengelus kepalanya.

“Terus, kenapa orang-orang memanggilnya dengan sebutan ‘Yang Mulia’?”

“Nak, orang-orang yang memutuskan suatu perkara, dianggap punya kebijaksanaan lebih. Mereka bagai perpanjangan tangan Tuhan di dunia untuk memberi hukuman yang  setimpal kepada yang bersalah. Memberi keadilan kepada yang teraniaya. Namun seperti Tuhan, mereka memberi hukuman, bukan karena benci, tapi karena cinta kasih” aku menerangkannya panjang lebar, sambil menarik tubuhnya ke dalam dekapanku.

Dia, anakku, jagoanku. Umurnya baru 10 tahun. Entah mengerti atau belum, semua hal yang aku terangkan saat dia membuka-buka album  foto dan menemukan foto patung Themis, Dewi Keadilan yang terpajang di lobi kantorku, dan mulai bertanya.

“Berarti Ayah seperti itu? Ayah wakil Tuhan? Hebat!!.. Hmmm.. tapi kata teman-temanku di sekolah, Ayah mereka bilang, kalau Ayah kena cekal? Dan Ibu bilang, Ayah sedang cuti bekerja untuk waktu yang lama? Apa maksudnya, Ayah?”

Aku mengusap rambutnya. Semakin mendekapnya erat ke dalam pelukan. Kami duduk bersisian di sebuah sofa terbuat dari kulit mewah di ruang keluarga.

“Tidurlah. Sudah hampir jam sebelas, besok sekolah kan? dia mengangguk.

Aku meraih album foto yang ada dipangkuannya. Menutupnya, dan melepas pelukanku.

Dia bangkit berdiri, sebelum beranjak pergi, sekali lagi dia bertanya,

“Mengapa Ayah kenal cekal? Apa maksudnya?”

Aku menghela nafas dalam-dalam, menjawabnya dengan suara yang semakin lirih,

“Semua demi Kamu. Demi Kamu, Ibu juga Ayah. Demi kita nak, Ayah melepas penutup mata itu”

Sebuket Bunga Mawar Merah

I Love U, Lou”

Aku menghela nafas. Menyelipkan kembali kartu kecil yang terikat di buket bunga mawar merah yang baru saja kuterima. Buket bunga mawar merah itu, tergeletak pasrah di atas meja di depanku.

Setiap senin pagi dan selalu jam 10 pagi, buket bunga mawar itu datang. Mawar merah dan selalu mawar merah. Dan ucapan di kartu kecil pengiringnya, juga selalu sama, “I Love U, Lou”. Dan itu telah terjadi selama tiga bulan belakangan ini.

Namun aku tetap belum tahu, siapa pengirim buket-buket bunga mawar merah itu. Aku telah berkali bertanya kepada kurir pengirim bunga yang selalu berganti-ganti orang, tapi dari toko bunga yang sama dan mereka selalu menggeleng.

Aku juga menelepon toko bunga yang mengirimkan bunga itu padaku, tapi mereka hanya menjawab, bahwa si pemesan melarang mereka untuk memberi tahuku.

Teman-teman di kantor awalnya heboh tentang kedatangan buket bunga mawar itu. Mereka menggodaku.
Mereka mulai mencurigai satu-persatu teman-teman di kantor yang masih single, yang mungkin saja, diam-diam menaruh hati padaku.

Semua tebakan mereka salah. Lalu mereka mulai memindai teman-teman di media sosial yang aku punya, lagi mereka gagal. Akhirnya teman-teman bilang, aku punya pengagum rahasia.

Seminggu, dua minggu, sekali, dua kali, saat buket-buket itu datang, mereka selalu menggodaku. Bahkan mereka menilik buket bunga mawar itu dengan teliti,bolak-balik, seakan dengan begitu mereka akan tahu siapa pengirimnya. Usaha yang sia-sia. Kini mereka mulai tak acuh.

Sepertinya kedatangan buket bunga mawar merah untukku, sama saja dengan koran pagi langganan yang datang ke kantor.

Aku pun mulai mengacuhkannya. Setiap buket bunga itu datang, kadang aku malah memberikan buket bunga itu kepada teman-temanku. Kecuali kartunya. Aku menyimpan kartu-kartu itu di dalam laci meja kerjaku. Dan aku menuliskan tanggal, kapan buket bunga mawar merah itu datang dan kuterima.

Buket bunga yang kuberikan kepada teman-temanku biasanya menjadi rebutan. Setiap teman wanita bahkan terkadang teman pria, ikut mengambilnya, seorang satu. Oh iya, buket bunga itu, selalu berisi 7 batang bunga mawar merah. Selalu tujuh, tidak lebih, tidak kurang.

Jadilah setiap minggu, di meja beberapa teman, selalu ada sekuntum mawar merah. Entah terselip di antara kubikel. Entah tergeletak di dekat monitor komputer. Kadang berdesakan di kotak alat tulis di meja kerja mereka. Bahkan sekretaris direktur kami, wanita yang sudah paruh baya itu, memotong batangnya dan menyisipkannya di baju blazer hitam yang dia pakai, hingga beliau terlihat semakin anggun.

Namun aku tetap penasaran walau tak lagi terlalu mencari tahu, siapa pengirim buket-buket bunga mawar itu. Awalnya aku merasa buncah, menebak-nebak siapa dia.

Kemudian aku mulai penasaran. Lantas aku merasa terganggu. Dan akhirnya aku mulai tak peduli. Tak peduli? benarkah? entahlah, toh aku tetap saja menyimpan kartu-kartu kecil berisi ucapan cinta itu ke dalam laci mejaku. Di bilik hati kecilku, aku tetap penasaran, siapa dia? Teman sekantorkah? Teman di media sosialkah? Teman di perjalan? Atau yang lebih parah, apakah aku mengenalnya? Mengapa dia tak mengatakannya langsung padaku?

Hari ini, buket bunga ke empat belas itu datang. Aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri. Dan buket bunga ini datang bukan di hari Senin pagi seperti biasa, tapi di hari Jumat. Senin kemarin, buket bunga mawar itu datang sesuai jadwal. Namun hari ini, di hari yang tidak biasa, buket bunga itu pun berwarna tak biasa. Putih, tujuh kuntum mawar putih.

***

Aku selalu melihatnya setiap pagi dari balkon kamarku. Dia menggerakan tangannya ke atas lalu menariknya ke kiri dan kanan. Sedikit pemanasan, sedikit peregangan, sebelum dia mulai duduk bersila, mengatupkan kedua tangannya di depan dada, menutup kedua matanya dan mulai bermeditasi.

Aku bisa melihatnya bermeditasi di antara  celah-celah pagar balkon. Dia terlihat bagai arca seorang dewi di antara taman bunga. Iya taman bunga. Di antara balkon-balkon, apartemen-apartemen yang ada di seberang balkon apartemen-ku ini, hanya balkonnya yang penuh dengan tanaman. Dan semua hanya bunga mawar. Oh iya, aku lupa sesuatu, dia selalu menyiram dulu tanaman bunga-bunga mawarnya sebelum memulai ritualnya.

Bunga-bunga itu di tanam dalam pot besar dan kecil. Mawar putih, kuning, merah jambu juga peach. Sepertinya ada satu yang kurang. Ah, merah. Ya mawar merah.

Mengapa tak ada bunga mawar merah di sana? Itu membuatku penasaran dan ingin bertanya padanya. Mengapa tak ada mawar merah? apakah dia lupa menanamnya? Tidak sukakah dia pada mawar merah? Atau pohon bunga mawar merahnya tak pernah berbunga?

Jangan-jangan dia tak ingin, bunga mawar merah itu akan menyaingi rambut panjangnya yang berwarna merah dan bergelombang indah? Bukankah bunga mawar merah akan menambah rona di pipinya yang bersemu saat pandangan mata kami beradu?

Saat pertama kali pandangan kami bertemu, dia tersenyum ramah. Matanya berbinar indah. Sinar mentari pagi menerangi wajahnya yang berpeluh, hingga nampak bercahaya. Seketika aku jatuh cinta.

“Hai” dia menyapaku sambil melambaikan kecil padaku sebagai sapaan. Aku mengangguk, tersenyum.

“Baru ya?” lagi dia bertanya, lagi aku hanya mengangguk.

“Mari” serunya lagi, pamit dan berbalik, masuk ke dalam apartemennya. Aku hanya memandangnya nanar. Ada rasa yang perlahan menyusup, rasa kehilangan.

Besoknya hal itu terjadi lagi. Dia menyiram tanaman bunga-bunga mawar itu, melakukan pemanasan, peregangan dan mulai bermeditasi. Dan aku terus saja memandang ke arahnya dari balik jeruji besi pagar balkon, menikmatinya yang bak arca seorang dewi di dalam taman di antara bunga mawar.

Dan setiap pagi, dia selalu menyapaku. Aku hanya tersenyum, mengangguk, menggeleng, melambaikan tangan, hingga dia berbalik masuk ke dalam apartemennya dan berlalu.

***

“Saya tidak tahu namanya. Dia baru saja sebulan tinggal di sini. Tinggal sendiri.  Sepertinya seorang pelukis. Pernah satu saat saya melihat pintu apartemennya terbuka, dan di dalamnya seperti banyak kanvas-kanvas dan cat-cat. Namun kami tak pernah berbicara. Saya pun tak pernah bertanya, walau sesekali berpapasan. Dia hanya tersenyum dan mengangguk”

Aku mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Nyonya Maggie tentang lelaki di gedung yang sama dengan apartemennya. Nyonya Maggie, sebenarnya bernama Margareth. Wanita yang ramah. Saking ramahnya, terkadang sulit untuk memotong omongannya. Rambutnya yang pirang ikal dan dipotong pendek, sepertinya ikut mengangguk-angguk setiap dia bicara, menambah ramai suasana.

Lelaki yang selalu sebulan ini, setiap pagi, berdiri di balkonnya yang berada persis berseberangan dengan balkon apartemenku.

Aku sepertinya merasa bahwa dia mengawasiku, memperhatikanku.  Aku menyapanya basa basi, tapi dia hanya menanggapi dengan tersenyum, mengangguk, menggeleng dan terakhir melambaikan tangan bila aku berpamitan dan masuk ke dalam apartemenku sendiri.

Aku heran, mengapa dia tak pernah bicara. Namun aku merasa ada yang menarik padanya. Entah apa. Wajahnya yang tampankah? Tulang rahangnya yang kokoh? Atau rambutnya yang hitam kelam dengan
sepasang mata elang yang menusuk tajam dibingkai alis mata tebal.

Dan aku mulai terbiasa akan kehadirannya. Setiap pagi, setiap hari, walau dia tak berbicara.

***

Ini sudah menginjak pekan ke tiga belas, aku tak melihatnya. Sudah 4 bulan belakangan, aku terbiasa dengan kehadirannya. Lelaki bermata elang di balkon seberang. Aku merasa ada yang hilang bila dia tak ada di sana.

Dan aku semakin merasa kehilangan. Tiga belas minggu ini, pintu apartemennya yang menuju ke balkon selalu tertutup.

Sepertinya aku jatuh cinta. Cinta yang aneh. Kami tak pernah bicara, ups, dia yang tak pernah bicara. Sedang aku, setiap selesai bermeditasi, selalu menyempatkan diri menyapanya.

Entah mengapa aku tiba-tiba suka bicara padanya. Walau itu hanya sekedar membahas matahari yang semakin jarang bersinar. Daun-daun yang mulai gugur. Tanaman bunga-bunga mawarku yang mulai enggan
berbunga. Dan cuaca semakin dingin mendekati musim dingin.

Dan aku benar-benar kehilangan dia, saat salju pertama mulai jatuh.

***

Aku memakai mantel, lalu melilitkan syalku ke leher. Menyampirkan tas ke pundak kanan dan menggenggam buket mawar putih ke dalam pelukan lengan kiriku.

Dan hari ini, hari terakhir di kantorku. Senin besok, kami sudah mulai libur menyambut Natal. Salju mulai berguguran, melayang-layang ringan, aku bergegas.

Satu blok lagi aku akan sampai di rumah, ketika langkahku mendadak terhenti persis di depan gedung apartemen lelaki itu.

Entah mengapa, aku tiba-tiba membelokkan langkah dan mulai memasukinya. Aku memencet tombol lift hingga ke lantai lima bangunan ini. Dan aku mulai menyusuri lorong menuju kamar nomor tujuh  ketika pintu lift terbuka.

Setiap nomor apartemen di tiap gedung, persis sama, itu yang membuatku melangkah dengan yakin kemana aku akan menuju.

Aku telah berdiri di depan pintu apartemen nomor tujuh. Aku mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Lagi aku mengetuk pintu, tetap tak ada jawaban. Aku mulai sedikit berteriak memanggil, yang ada hanya keheningan. Hanya suaraku yang bergema, memantul di lorong. Aku mulai ragu. Tetap mengetuknya atau berbalik pulang.

Tak ada seorangpun melintas di koridor lantai ini. Ragu-ragu aku memegang gagang pintu, memutarnya perlahan, tiba-tiba…

Dengan pelan pintu itu terbuka, tak terkunci ternyata. Hanya ada cahaya redup di dekat jendela. Aku memberanikan diri masuk.

Nyonya Maggie benar. Di dalam ruangan ini terdapat banyak kanvas-kanvas. Kaleng-kaleng cat, terlihat di beberapa tempat.

Hallo” seruku sambil terus berjalan masuk.

“Adakah orang di rumah?” lagi aku memanggil, suaraku bergetar, takut-takut.

Cahaya lampu dari luar ruangan, sedikit menambah cahaya yang ada di ruangan apartemen ini. Aku seperti melihat sosok seseorang di sudut dekat jendela. Sosok yang sepertinya sedang duduk bersila. Duduk bersila? setinggi itu? bersila, mengambang di udara, ah tidak mungkin.

Aku mendekat ke tembok, mencari tombol lampu, menyalakannya, dan…

Aku memandang takjub. Itu sebuah lukisan. Lukisan seorang perempuan berambut panjang berwarna merah dan bergelombang.

Perempuan itu sedang duduk bersila, menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan mata. Dia serupa bersemedi. Bermeditasi di antara hamparan bunga-bunga mawar aneka warna kecuali merah ya mawar merah, di depannya.
Lukisan itu masih diletakan di tiang penyangganya.Pantas saja, seperti sosok yang duduk bersila, mengambang di udara.

Perlahan aku mendekati lukisan itu. Meraba tepian kanvasnya. Ragu, meraba badan lukisan, catnya telah mengering, walau belum kering sempurna. Di sudut kanan ada segores tulisan,

I Love U, Lou”

Aku tercengang. Wanita.. wanita dalam lukisan itu aku, ya itu aku. Aku baru menyadarinya. Aku mundur selangkah,

Jadi.. jadi selama ini, dia, dia… Aku berbalik hendak pergi, aku terkejut dan refleks membuat buket mawar putih dalam pelukanku terlepas, ketika dia sudah berdiri tak jauh dariku, tersenyum dan mulai menggerakkan jari jemarinya membentuk kata-kata,

“Iya, itu aku. Aku yang melukisnya juga mengirimkan bunga. Kuharap kau menyukainya”

Mata elangnya menusuk lembut bola mataku, aku terpana, diam seribu bahasa.

Di Sebuah Sudut

panasnya matahari
membakar telapak kaki
siang itu di sebuah terminal
yang tak rapi..

 

Aku melompat turun dari sebuah metromini yang terus melaju perlahan ke dalam area terminal. Matahari sedang diskon hingga 70 persen, panasnya membakar ubun-ubun, menambah pusing kepalaku, karena lapar. Sejak kemarin sore, aku belum lagi makan.

wajah berjalan kaki
kusut mengutuk hari
jari-jari kondektur
genit gonta-ganti..

Orang-orang lalu lalang di antara metromini, kopaja, bus hingga transjakarta. Kendaraan-kendaraan menebar asap dari pantat knalpotnya yang berjelaga. Panas semakin menyengat, berbaur dengan keringat, mata-mata terpicing melihat nomor-nomor angkutan dan rute tujuan. Aspal semakin legam, mengkilat, meleleh, membuat lekat.

Tangis bocah dalam gendongan ibunya yang haus minta susu. Rengek anak kecil meminta permen atau minuman kemasan aneka warna yang dijajakan pedagang asongan yang bersliweran. Teriakan kondektur-kondektur memanggil penumpang atau sekedar pengumuman, tujuan akhir, pun awal telah sampai. Udara menguap bersama asap dari kompor tukang gorengan, bergandengan dengan asap rokok, asap knalpot bahkan sepertinya kepalaku mulai berasap.

dari sebelah warung
sebelah WC umum
irama melayu terdengar
akrab mengalun..

Aku melangkahkan kaki ke arah toilet umum di dekat sebuah taman. Taman? itu hanya sepetak lahan yang dipagar pemerintah kota, tak terurus, seperti sekedar pemberi jeda. Namun paling tidak, taman ini sedikit memberi kedamaian di antara hiruk pikuknya terminal. Beberapa pohon angsana, membesar, menjulang dan daun-daunnya yang lebat, memayungi taman dari hantaman sinar matahari atau sekedar rintik gerimis.

Masuk ke dalam salah satu biliknya, menuntaskan hajat. Puas mengosongkan kandung kemih, aku hanya menepukkan lipatan koran yang sejak tadi kupegang kepada si penjaga, yang sejak awal aku masuk ke toilet ini, dia seketika berhenti mengikuti Pak Haji si Raja dangdut bernyanyi. Mulutnya yang sudah dower dan hitam, semakin terlihat hendak jatuh, saat mencibir ke arahku yang menyeringai dan terus saja berlalu.

bocah kurus tak berbaju
yang tak kenal bapaknya
tajam matamu
liar mencari mangsa..

Aku melompati pagar taman. Duduk di bangku batu yang warna catnya sudah menghilang. Entah itu awalnya warna apa mungkin merah, biru atau kuning. Ah, warna-warna untuk fasilitas umum di negeri ini, selalu identik dengan warna partai-partai yang sedang berkuasa.

Beberapa bocah pengamen berlarian, berkejaran, bercanda di dalam taman. Ada yang duduk diam bersandar pada batang pohon angsana, sibuk ngelem dan terbang menjelajahi negeri impian.

ramai para pedagang
datang tawarkan barang
ratap pengemis bak meriam
dalam perang..

Di tengah taman, dekat air mancur yang sudah lama almarhum, beberapa pedagang asongan menyusun barang dagangannya. Koran-koran yang disusun ulang. Minuman-minuman yang ditukar posisi. Buah-buah yang diatur rapi ke dalam kotak-kotak kardus sebelum kembali berjibaku ke tengah terminal yang berdebu.

Di sudut dekat sebuah tiang lampu yang tutupnya telah pecah, seorang pria tua, meluruskan kaki yang telah beberapa jam sebelumnya dia tekuk dan sembunyikan ke dalam celana panjangnya. Disebelahnya tergeletak sebuah tongkat untuk melengkapi sandiwaranya.

Sebatang rokok terselip di bibirnya. jemarinya menyusun lembaran-lembaran uang. Tak berapa jauh darinya, seorang gadis kecil, membalik gitar kecilnya, menumpahkan beberapa lembar dan logam yang kini berceceran di tanah di depannya, lalu tangan dan mulut mungilnya, sibuk memunguti dan berhitung.

Aku memandang mereka, lantas tersenyum sendiri dan merogoh saku belakang celanaku. Membuka sebuah dompet, menilik isinya. Kartu tanda penduduk, kartu tarik tunai, kartu nama, kartu pelanggan sebuah toko serba ada, foto seorang pria, foto lagi, kali ini, seorang pria yang berdiri memeluk pinggang si wanita dari belakang dan struk-struk belanja.

Aku mendongak, memandang berkeliling. Ini sudah lewat tengah hari, perutku sudah teriak minta diisi. Aku merobek-robek semua benda-benda tak berharga tadi, menarik semua lembaran uang yang ada. Mengantonginya ke dalam saku, dan melempar dompet berwarna merah muda itu ke tong sampah sambil berlalu. Itu pun bila masih pantas disebut tong sampah.

Bicaralah, Jangan Hanya Diam

Aku melihatnya berdiri terpaku. Sendiri saja,di tengah-tengah. Bergegas, aku ikut berdiri di sampingnya.

“Kamu sedang apa? mengapa hanya berdiri di sini? Sedang menunggu seseorang? Menunggu godot?”

Tanyaku.

“Atau kau sedang menunggu Dewa Keadilan? Percumaaa!! Dewa Keadilan sudah pergi”

Dia diam.

“Kalau ditanya itu jawab, jangan cuma diam. Apa kamu seperti mereka? Tidak punya kuping?”

Tak ada jawaban, hanya keheningan, kembali aku berucap.

“Kau tahu kemana Dewa Keadilan pergi? Aku tahu. Ssssstttt.. sini Kau kuberi tahu, tapi ingat jangan bilang-bilang kepada siapapun. Ingat, ini rahasiaaaaa… Rahasia besaarrr”

Dia tetap diam.

“Dewa keadilan telah pergi bersama Uang. Mereka pergi menuju Matahari dan terbakar bersama di sana. Mereka mati, mati, matiii!!!”

Seruku setengah berteriak di depannya. Aku melihat matanya kini memerah.

“Hei!! apa-apaan kamu? Kenapa kamu malah melotot? Apa kau tak rela Dewa Keadilan mati? Aku juga!! Tapi kau jangan melotot padaku. Melotot dan marahlah pada Uang. Bukan aku”

Dia bergeming, matanya semakin merah.

“Lihat, itu lihat, matamu semakin merah. Kamu marah??? Lalu Kamu mau apa???”

Aku menyingsingkan sebelah lengan bajuku, lantas memasang kuda-kuda.

“Percuma kau punya banyak kuping. Raba, raba-lah sendiri kupingmu yang ada tiga, masih juga tak mendengar??? Kau sudah tuli?”

Dia tetap berdiri terpaku. Malam semakin tua, dinihari menjelang sudah. Aku semakin kesal.

Beberapa kali matanya memerah. Aku mulai menyingsingkan lengan bajuku yang satu lagi. Tanganku terkepal, aku mulai memasang kuda-kuda semakin kokoh, bersiap-siap bila dia menyerangku.

Dia masih terdiam, matanya menyala merah, saat segerombolan pengendara motor yang berpacu sambil menyabetkan senjatanya ke segala arah,membabi buta, termasuk ke arahku dan arahnya.

Aku kena, dadaku terkena, seruku. Kau tak ingin menolongku? Bukankah aku tidak menyerangmu seperti gerombolan setan yang tiba-tiba menyabetku tanpa aku tahu, apa salahku? Bukankah aku malah memberi tahu-mu sebuah rahasia? seruku padanya sambil menatap dia yang tetap  diam seribu bahasa.

Darah perlahan mengucur. Dadaku mulai sesak. Kepalaku Menjadi pusing. Keadaan gelap semakin menggelap, aku jatuh tersungkur. Sebelum mataku benar-benar tertutup, aku melihatnya lagi, sekali lagi. Dia tetap diam, bergeming. Hanya matanya saja yang terus berganti-ganti warna. Merah, kuning, hijau lalu kembali merah, begitu seterusnya.

Kembang Setaman

“Maafkan saya, Mbak”

Halagh, wis, ra usah minta maaf. Resikomu dewe. Aku cuma mbantu

Aku duduk di belakangnya yang sedang sibuk berdandan menghadap ke sempalan cermin yang digantung di dinding rumah.

“Dia bilang, dia mencintai saya Mbak”

“Cinta? apa itu cinta? omong kosong”

Sahutnya sambil memonyongkan bibir, menebalkan gincu berwarna jambon terang.

“Saya mencintainya juga Mbak. Saya pikir dia lelaki yang baik”

“Kamu tuh boleh main cinta-cintaan tapi jangan kebablasan sampe mblendung kaya bola perutmu itu!”

Sanggahnya sambil menaburkan pupur ke wajahnya.

“Kamu itu terlalu lugu. Percaya saja mulut lelaki. Lelaki itu buaya. Mereka ndak bisa lihat perempuan cantik tapi bodoh kaya kamu. Mulutnya ndlongop, terus hap lalu kamu habis dimangsa”

Sergahnya lagi, kali ini dia menaburkan perona pipi.

“Kamu tuh cantik, tapi bodoh. Bodoh kok dipelihara. Mending melihara terus angon wedus ae, iso manak, terus cempe sekalian emaknya bisa kamu dodol nang pasar khewan

Dia meneruskan ucapannya. Tangannya sibuk  menyisir rambut.

“Dia janji akan menikahi saya, Mbak” sahutku semakin lirih.

“Janji? Janji apa? Janji kentut, cuma ninggalin kamu baunya saja. Mana buktinya? pantatnya saja, orang itu ndak kelihatan. Hilang blas, nunclep, mblesek nang bumi”

“Kamu tuh ya boleh dik, pacaran. Namun pinter sedikit kenapa? Mbok pakai pengaman. Jaman sekarang, cah wedok iku wis lumrah ndak perawan”

Dia mengikat rambutnya, lantas mulai membuat semacam sanggul indah di kepala.

“Ada teman yang menyarankan untuk menggugurkan, tapi saya takut Mbak, lagi pula saya tak punya cukup uang” aku mengelus-elus perutku yang semakin membesar.

“Jabang bayi dalam perutmu itu tidak salah. Sing salah ya kamu sama dia. Kenapa mesti jabang bayi sing dipateni? Kalau mau, kalian aja sing matek

Kini dia mulai mematut-matut beberapa sandal dengan hak tinggi yang berserak dekat kakinya.

“Saya takut pulang Mbak” ucapku semakin getir.

“Pulang?? Sudah bikin malu keluarga, kamu mau pulang?? kamu mau digyaantung Bapak nang pohon waru po?? Lagipula kalau kamu pulang, apa kata orang-orang sekampung? mau ditaruh dimana muka Bapak karo si Mbok? Cah ra waras

Aku hanya diam, airmata mulai berjatuhan.

Wis, ra usah nangis. Ngerti kepenak kok ya cengeng. Kamu tinggal di sini saja bareng aku. Nanti kalau anakmu sudah lahir, kamu bisa cari kerja”

Aku menahan isak.

“Kamu sudah makan?” tanyanya. Nada suaranya mulai rendah. Aku menggeleng.

Nyoh, buat beli makan di warung depan. Nanti kalau sudah makan. tolong rumahku kamu bersihkan ya? sekalian ruangan dekat dapur itu, buat tempatmu tidur”

Dia menyusupkan selembar uang berwarna biru ke dalam tanganku yang terkepal menahan kegetiran.

“Aku mangkat sik yo? Kalau ada apa-apa, bilang aja ke Pak Karto yang jaga warung minuman dekat ujung gang. Nanti dia kupesen supaya ndak ada orang yang mengganggumu di sini”

“Terima kas… “

“Sudahlah” dia memotong ucapanku dan lantas bergegas keluar. Aku mengikutinya untuk menutup pintu pagar.

Seorang lelaki paruh baya menghampirinya. Dia menyambutnya sumringah. Senyumnya mengembang, suaranya terdengar semakin merdu dan ramah saat menyapa sang pria. Mereka saling berpegangan tangan dan pergi entah kemana.

Aku menutup pintu pagar. Menatap rumah kecil ini lekat-lekat. Ada beberapa pot kembang di bawah jendela kamar.  Aku membaca sebuah gambar tempel di ujung paling atas kaca jendela.  Gambar tempel yang sepertinya sebagai penanda. No 12, RT 02/03, Kel. Pasar Kembang, tertera di sana.

Gusti Ora Sare

tak lelo lelo lelo ledung
Cep meneng anakku cah ayu
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis mundak ibu bingung *

Bapak menyenandungkan lagu itu sambil mengusap-usap punggung anakku yang tertidur di depan TV, di ruang tengah, ruang utama, ruang serbaguna rumah kontrakan yang kami tempati ini.

Sesekali, tangannya menepuk nyamuk yang hinggap di tubuh anakku. Cahaya berpendaran dari TV yang menyala hampir tanpa suara, entah acara apa. Bapak tak sedang menonton TV. Benda itu dinyalakan hanya serupa teman pengusir kesepian. Volume suara pun sengaja dikecilkan, agar anakku tak terbangun.

Sayup-sayup terdengar suara orang mencuci piring di sebelah rumah. Bunyi benda pecah belah berbenturan berseling suara orang terbatuk. Musik dangdut berdentam-dentam dari warung di seberang jalan, lima atau enam rumah dari rumah yang kami tempati. Sesekali tawa membahana, menguar bersama orang-orang yang sibuk main kartu gaplek, catur atau hanya mengobrol di seputaran warung, di dekat jembatan.

“Bapak dereng sare?” tanyaku.

Bapak menggeleng. Itu hanya pertanyaan serupa basa-basi. Aku tahu, Bapak tidak akan pernah tidur sebelum aku pulang kecuali kalau ketiduran.

“Bapak sampun dahar?” kembali aku bertanya.

Wis, karo tempe nang Warteg Yu Jum. Bagas juga sudah maem, karo sosis sing cilik-cilik iku, tuku nang warung. Kowe lembur lagi toh?” sahutnya sekaligus bertanya. Aku mengangguk.

Bagas, anakku satu-satunya. Jagoan cilik berumur tiga tahun kesayangan kami. Dialah pusat dunia dimana pikiran kami teralih.

“Becaknya sudah dikunci?” sambil berlutut hendak membopong anakku, kembali aku bertanya.

Wis. Alon-alon, nanti bangun” ucapnya sambil menyingkirkan sehelai jarit yang membelit kaki Bagas, jarit yang diperuntukkan untuk selimut.

Aku membopong tubuh anakku. Meletakkannya di kasur yang diletakan di lantai di ruang tengah rumah ini yang berfungsi sebagai kamar. Bapak tidur di ruang depan, beralaskan karpet busa tipis.

Kami tinggal bertiga saja di rumah ini. Bapak, aku dan Bagas. Ibu sudah lama meninggal. Bapaknya Bagas, sejak lama menghilang sejak Bagas baru berumur 10 bulan. Orang-orang bilang, suamiku kepincut janda kembang.

Bapak tidak percaya, pun aku. Suamiku orang baik, walau hanya kuli bangunan yang sering berpindah-pindah tempat mengikuti pekerjaan.

Berbulan Bapak mencari menantunya. Demi aku, demi Bagas. Dan rumor yang beredar menjadi kenyataan. Suamiku kawin lagi di daerah tempatnya bekerja membangun sebuah proyek perumahan. Ini bukan masalah wanita itu janda atau perawan. Kembang atau dedaunan. Ini hanya bukti,orang baik belum tentu setia, itu saja.

Lantas aku memilih sendiri. Dan melarang Bapak menghukum dan meminta pertanggungjawaban menantunya.

Kemudian aku menjadi buruh di pabrik garmen dekat rumah. Bapak tetap pada profesinya, penarik becak. Kami bertukar shift. Bila aku masuk shift pagi, maka Bapak akan narik becaknya di malam hari, pun sebaliknya. Kalau tidak begitu, siapa yang akan menunggu, menemani dan menjaga Bagas?

Sebenarnya aku tak tega membiarkan Bapak menarik becak malam-malam. Umur Bapak sudah lebih dari 65 tahun. Tubuhnya semakin renta. Kadang batuk-batuk, masuk angin dan entah apalagi. Dan semua itu hanya kami obati dengan obat-obat yang dibeli dari  warung. Sesekali kalau sudah terlalu parah, Puskesmas-lah yang menjadi andalan. Entah memang berkhasiat, entah terpaksa atau hanya sugesti, toh obat yang biasanya hanya berwarna putih, hijau dan kuning itu, manjur saja.

Aku menyelimuti Bagas. Mengecup kening dan mengusap rambutnya, lalu kembali ke ruang depan tempat Bapak berada.

“Yakin Bapak mau narik? Di luar mendung, sepertinya akan hujan” tanyaku yang melihat Bapak sedang bersiap-siap. Beliau memakai jaket lusuhnya. Sebuah handuk kecil diselempangkan di leher, sebagai pembasuh keringat. Bapak mengangguk.

“Lebih baik Bapak ndak usah narik. Minggu ini saya banyak lemburan. Cukuplah buat persiapan bayar kontrakan minggu depan”

Ora popo toh nduk. Lumayan buat Bagas tuku jajanan. Gajimu bisa buat beli susunya Bagas. Kasihan anakmu kalau cuma minum air tajin (1) dan teh manis” sahutnya, aku tergugu.

Hatiku terkadang miris, bila hujan di malam hari, sedang Bapak belum lagi pulang. Aku membayangkan Bapak menggigil duduk menunggu penumpang di dalam becaknya, sedang angin menderu, merasuk, menyusup pori-pori, mengigiti tulang-tulangnya. Pun terbayang nafasnya yang terburu saat setumpuk sayuran meninggi di becaknya, karena biasanya yang memakai jasa penarik becak saat malam hari, lebih sering tukang sayur yang pergi atau baru pulang dari pasar. Namun Bapak bersikeras. Bapak bilang badannya sakit bila hanya duduk diam, dan aku mengalah.

Aku memandang Bapak mempersiapkan becaknya. Dia mengibaskan kain lap untuk membersihkan debu. Banyak bekas tapak sandal Bagas di sana. Jagoan kecil itu, senang naik turun di becak, tak bisa diam.

“Enak ya Pak, jadi koruptor. Kata Pak Bambang, manager pabrik yang tadi datang ngecek-ngecek, koruptor makan uang rakyat, tapi cuma dihukum empat tahun penjara. Pak Bambang bilang, kita yang bekerja keras, pejabat yang makan uangnya. Kalau rakyat sejahtera, Bapak kan ndak usah narik malam-malam” ucapku getir.

Ojo ngomongke pejabat ae toh nduk. Kowe kaya pembawa acara debat kusir nang TV. Wis biar saja. Manusia sudah punya jatah rejekinya masing-masing. Manusia juga sudah punya garis hidupnya masing-masing. Kita sebaiknya berusaha, ikhtiar, ojo sing aneh-aneh, kalau mau nggolek rahmatnya Gusti, nduk. Alam saja bekerja tanpa mengeluh” katanya.

“Tapi tidak adil Pak. Maling ayam atau copet nang pasar karena di rumah anak dan istrinya kelaparan, hukumannya jauh lebih berat, terkadang malah mati dibakar” sahutku lagi.

Sangkan Paraning Dumadi, nduk. Kawruhana sejatining urip, urip ana jroning alam donya, bebasane mampir ngombe **. Harta ndak digowo mati. Nanti kalau Bapak mati, Bapak juga tidak mau dikubur bareng becak, kuburane dadi sempit hehehe.. Kowe mesti yakin nduk, Gusti Allah ora sare. Gusti ora sare. Bapak mangkat sik yo?” pamitnya, aku mengangguk.

Bapak kemudian mendorong becaknya yang tadi diparkir persis di depan rumah, di bawah pohon jambu. Bapak kembali bersenandung dan mengayuh becaknya semakin menjauh.

sakehing kan dumadi makardi
lir Hyang Widhi kan tansah makarya
nguribi jagad tan leren
surya, candra lan bayu, bhumi, tirta kalawan agni
peparing panguripan
mring pamrih wus mungkur
anane nuhoni dharma
iku dadya sastra cetha tanpa tulis
nulat lakuning alam
***

Sayup-sayup terngiang senandung yang keluar dari mulut Bapak yang semakin hilang tertimpa hingar bingar syair lagu seorang penyanyi dangdut menanyakan sebuah alamat berulang-ulang.

Bapak benar, Gusti Allah ora sare. Semoga alamat yang dicari cepat ketemu Mbak, aku membatin, meningkahi lirik lagu dangdut itu. Menutup pintu dan menguncinya, dan malam semakin tua.

Menunggu

Senja luruh, bara mentari perlahan redup di ufuk, aku melihatnya masih saja duduk di situ.

Di bebatuan pemecah ombak. Menghadapi joran yang tak jua berkedut pertanda ikan memakan umpan. Sesekali dia menyisir rambut ikalmu perlahan. Anak-anak rambut yang mulai mengabu, semakin mengukuhkan kerut di raut wajahnya. Senja, senja dan usia.

Angin darat semakin kencang bertiup. Dan saat malam semakin menua, hembusan-hembusan angin semakin menderu, mengantar nelayan ke laut nan jauh.

Dia mendekap kedua tangannya di depan dada. Mencoba mengusir dingin yang perlahan menyusup ke dalam pori-pori, membuat gigil sendi-sendi.

Seminggu ini selalu melihatnya setiap senja. Hampir selalu duduk di tempat yang sama. Dengan kail yang hanya terbuat dari bilahan batang bambu dengan benang nilon dan umpan yang tergantung lekat di mata pancing.

Entah umpan itu terbuat dari apa, sepertinya dia selalu saja tak pernah berhasil membawa ikan-ikan pulang. Atau ikan-ikan yang terlalu sombong untuk memakan umpan sederhana yang dia buat?

Aku tak pernah bertanya. Aku hanya duduk di dalam warung kopiku, memperhatikannya diam-diam. Dan tak sekalipun dia singgah ke warungku. Walau setiap menjelang senja dia melewati samping bilik warung, menerjang rerumputan,duduk di bebatuan, lantas melemparkan kail dan menunggu.

Terlintas harap dia mampir ke warungku. Menyesap kopi dalam gelas hingga tandas sebelum bergegas. Sesekali bibirku hendak berucap, ingin menyapa. Terkadang pikirku ingin bertanya, mengapa hanya lewat? Tak hendakkah singgah dan bertukar sapa? Serupa air panas yang mencumbu kopi, menyeruakkan aroma kenikmatan ke udara.

Namun itu tak juga aku lakukan. Aku hanya diam, memandangnya lewat, pun dia, menyisakan bayang yang berkelebat.

Lantas ketika bintang mulai berkelip satu demi satu. Aku melihatnya bangkit. Menggulung benang pancing, menenteng kantong plastik kecil yang mungkin dia persiapkan bila mendapat tangkapan dan juga untuk membawa umpan. Berlompatan di antara bebatuan diiring ombak yang semakin deras berdebur. Kembali menerjang rerumputan, melewati samping bilik warung kopiku dan berlalu.

Seminggu berlalu, dua minggu berjalan, tiga minggu terlampaui. Dia tetap seperti itu, melewati samping bilik warungku.

Menerjang rerumputan, melompati bebatuan, melempar kail dan menunggu. Pun aku, terduduk diam dalam warung kopiku. Namun tak seperti dia yang berjalan, menerjang, berlompatan di antara bebatuan, melempar kail dan menunggu. Aku? Aku hanya memandang dan menunggu.

Aku Rindu Kamu

Hai, apa kabar? kamu baik-baik saja kan?

Aku memencet tanda panah, satu persatu huruf yang tadi kuketik, menghilang.

Senja hari ini sungguh indah, merah sempurna, bagimana dengan senja di kota mu?

Kursor itu berkedip-kedip, aku menghela nafas, menyesap kopiku lamat-lamat, kembali tanda panah itu aku tekan, dan satu demi satu, kata-kata itu menghilang.

Entah itu sudah kata-kata pembuka keberapa yang aku ketik lalu aku hapus kembali. Dan berapa menit lamanya aku menghabiskan waktu di depan layar monitor ini, mengetikkan kalimat-kalimat yang hendak aku tujukan padamu, tapi aku selalu menghapusnya.

Satu gelas besar air putih telah lama tandas, pun segelas kopi yang mendekati ampas, menemaniku termangu, mengetikkan kata demi kata yang tak jua lahir menjadi lembaran utuh.

Aku rindu, akanmu.

Aku mengetikkan kalimat itu, menyimpannya menjadi draft, lalu mematikan komputer, menghela nafas, menenggak tetes terakhir kopi dalam gelas, termangu, aku rindu, akanmu.